Negeri X Di Surabaya. Jurnal Promkes Vol. 1 No. 2. ISSN. 1907-9206
Feb 14, 2016
Usaha Kesehatan Sekolah
Negeri X Di Surabaya. Jurnal Promkes Vol. 1 No. 2. ISSN. 1907-9206
Jan 3, 2016
Konflik Antara Pkl Dengan Dinas Peternakan Depan Pasar Sabtuan Jember
Kewirausahaan Kelembagaan
Dec 5, 2015
Expectancy Theory - Motivasi
- Expectancy, harapan adalah probabilitas bahwa usaha kerja akan diikuti oleh prestasi kinerja. Harapan merupakan keyakinan bahwa upaya seseorang menghasilkan pencapaian kinerja yang diinginkan. Biasanya didasarkan pada pengalaman, kepercayaan diri, dan kesulitan yang dirasakan berdasarkan standar kinerja organisasi. Hal ini akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan individu karena mereka pada akhirnya akan memilih perilaku yang akan memastikan tujuan yang diinginkan. Ada 3 komponen yang terkait dengan harapan individu, diantaranya adalah kepercayaan diri karyawan dalam pencapaian tujuan, tingkat kesulitan tujuan, kemampuan pencapaian tujuan.
- Instrumentality, adalah probabilitas kinerja
yang akan mengakibatkan berbagai hasil
kerja. yaitu besarnya kemungkinan bila bekerja
secara efektif, apakah akan terpenuhi keinginan dan kebutuhan tertentu yang
diharapkannya. Keyakinan bahwa seseorang
akan menerima imbalan jika ekspektasi kinerja terpenuhi.
Imbalan bisa dalam
bentuk kenaikan gaji, promosi, pengakuan atau rasa keberhasilan. Instrumentality rendah ketika imbalan sama untuk tingkat upaya berbeda yang
diberikan karyawan.
Faktor yang terkait dengan Instrumentality adalah kepercayaan, kontrol dan kebijakan. Tingkat kepercayaan individu terhadap organisasi akan memberikan tingkatan motivasi yang berbeda, pada tahap ini karyawan mungkin percaya terhadap janji-janji organisasi. Ketika ada persoalan kepercayaan, karyawan merasa perlu melakukan kontrol terhadap sistem reward. Kontrol terhadap sistem reward bisa dalam bentuk kebijakan yang dibuat dan disepakati oleh organisasi. Instrumentality cenderung meningkat ketika kebijakan tertulis ditetapkan. -
Valence adalah kekuatan relatif dari keinginan dan kebutuhan seseorang. Valence merupakan suatu intensitas kebutuhan untuk mencapai
hasil, berkenaan dengan preferensi hasil yang dapat dilihat oleh setiap
individu. Bagi seorang individu, perilaku tertentu mempunyai nilai tertentu.
Suatu hasil mempunyai valensi positif apabila dipilih, tetapi sebaliknya
mempunyai valensi negatif jika tidak dipilih. Valence berada pada rentang -1 (hasil yang sangat tidak
diinginkan) hingga +1 (hasil yang sangat diinginkan). Valence ditandai dengan sejauh
mana seseorang menghargai hasil yang diberikan atau rewards. Lebih lanjut Vroom berpendapat bahwa motivasi, expectancy, instrumentality, dan valence terkait satu sama lain dengan persamaan.
Sep 5, 2015
Kepemimpinan-hasil riset yang terlupakan
Kepemimpinan selalu diakaitkan dengan pemimpin. Makna kata “kepemimpinan” erat kaitannya dengan makna kata “memimpin”. Kata memimpin mengandung makna kemampuan untuk menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu organisasi sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Kouzes (2007:8) menjelaskan tentang kepemimpinan adalah bagaimana dapat merebut peluang untuk memberi solusi terbaik pada orang lain dan membimbing mereka untuk mencapai tujuan yang sangat menantang. Kouzes menitik beratkan pada solusi yang bisa diberikan kepada karyawan ketika ada persoalan yang terjadi. Solusi yang ditawarkan sebisa mungkin mampu membawa organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi. Lebih lanjut Kouzes (2007:15) membatasi kepemimpinan pada prilaku bukan sifat yang dimiliki oleh pemimpin tersebut. Dengan kata lain, kepemimpinan adalah bagaimana pemimpin tersebut berprilaku ketika ada masalah yang dihadapi oleh organisasi yang dia pimpin.
Robbins (2013 : 368) memberikan arti kepemimpinan sebagai berikut: kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kelompok menuju tercapainya sasaran. Target utama dari setiap organisasi adalah tujuan awal yang telah dicanangkan. Kemampuan Pemimpin menjadi tidak bisa diabaikan jika keinginan dalam mencapai tujuan menjadi suatu keharusan. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin akan menjadi penentu sehingga setiap individu dalam organisasi tersebut mampu memfungsikan diri sesuai dengan porsi dan posisinya masing-masing secara maksimal. Dalam buku yang berbeda Robbins (2013:300) memaknai kepemimpinan dari sudut pandang manajerial. Robbin mendefinisikan pemimpin sebagai seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain dan yang memiliki otoritas manajerial. Otoritas yang dimiliki manajer, kemudian dilimpahkan dalam bentuk taggung jawab yang dibebankan kepada karyawan/bawahan, dan tanggungjawab tersebut yang harus diselesaikan oleh karyawan. Pencapaian tujuan perusahaan adalah tergantung penyelesaian tanggung jawab yang dibebankan kepada karyawan tersebut.
Hal senada juga disampaikan oleh Schermerhorn (2010:306) yang mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk memberikan pemahaman dan persetujuan tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya, dan proses memfasilitasi individu maupun kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pemahaman ini, kepemimpinan memberikan pemahaman kepada karyawan tentang persoalan yang perlu dilakukan serta bagaimana melakukan kegiatan dalam pencarian solusi untuk mencapai tujuan organisasi. Sepintas pemahaman Schermerhorn tentang kepemimpinan memang mengesankan hanya pada “pemahaman” secara konseptual, namun lebih lanjut seorang pemimpin diwajibkan juga untuk memberikan “cara” atau solusi yang jelas tantang persoalan-persoalan, tata kerja dan langkah kongkrit dalam setiap persoalan yang dihadapi di perusahaan. Tujuan akhir atas peran kepemimpinan adalah pencapaian tujuan yang menjadi target perusahaan. Sedangkan menurut Tucker dalam Syafarudin (2002:49) mengemukakan bahwa kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi atau mendorong seseorang atau sekelompok orang agar bekerja secara sukarela untuk mencapai tujuan tertentu atau sasaran dalam situasi tertentu.
Dalam aspek kepemimpinan sebagai pemberi inspirasi, Schermerhorn (2010:321) mengelompokkan kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu : kepemimpinan karismatik, kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional.
Secara teoritis dan empirik telah banyak dikaji dan dijelaskan mengenai peran kepemipinan dalam berbagai aspek dan sudut pandang. Riset banyak menyimpulkan bahwa kepemimpinan banyak menjadi faktor penentu keberhasilan baik dalam skala kecil aupun besar, celakanya, semua riset yang dihasilkan hanya menjadi tumpukan kertas usang yang ditata dimasing-masing universitas, tanpe pernah diterapkan dilembaga yang ada di bangsa ini.
ref : silahkan email me
Peran MSDM bagi perusahaan-sebuah pengantar
ref : silahkan email me
Tulisan Baru
Jamur Tiram peluang dan manfaatnya
Jamur tiram merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan mudah pada media kayu lapuk, dapat dikonsumsi serta bernilai ekonomi. ...
-
Jamur tiram merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan mudah pada media kayu lapuk, dapat dikonsumsi serta bernilai ekonomi. ...
-
Pengantar Kewirausahaan Badan Pusat Statistik merilis pada bulan September 2014 bahwa kemiskinan di Indonesia mencapai 10,96 %. Dengan dem...
-
Mereka yang mampu bertahan dan menang dalam persaingan adalah mereka yang mampu membaca peluang pasar serta mampu memenuhi kebutuhan dan ke...