Dec 8, 2016

Kisi-kisi Soal UAS Dasar-dasar Manajemen Kelas 1 MBP Poliwangi 2016

Untuk kisi-kisi soal UAS mata kuliah Dasar-dasar Manajemen MBP Poliwangi 2016 bisa di download di



No
Kemampuan akhir yang direncanakan
Bahan Kajian/ Pokok Bahasan
Bentuk soal
Bobot
I
1.    Mampu menjelaskan 4 fungsi utama Manajemen.
Planning, Organizing, Actuating dan Controlling
Uraian
30 %
II
1.     Mampu menjelaskan tentang kepemimpinan.
2.     Mampu menjelaskan perbedaan pemimpin dan kepemimpinan
Kepemimpinan
Uraian
10 %
III
1.    Mampu menjelaskan pengertian motivasi karyawan.
2.    Mampu memberikan contoh motivasi internal dan eksternal.
Motivasi
Uraian
20 %
IV
1.    Mampu menjelaskan dan menerapkan tentang controlling.
2.    Mampu memberikan langkah-langkah dalam controlling.
Controlling
Uraian
30 %
V
1.    Menjelaskan pengertian Etika bisnis dan tanggungjawab sosial.
Etika Bisnis dan tanggungjawab sosial
Uraian
10 %



Download Kisi-kisi

Kalau ada masalah silahkan kontak di nomor hp saya

Oct 31, 2016

Jurnal Akuntansi Manajemen

Berikut daftar jurnal untuk mata kuliah Akuntansi Manajemen Prodi Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Banyuwangi.

Tugas kelompok Anda:
  • Buatlah 4 kelompok masing-masing kelas untuk mengkaji jurnal tentang topik:
  1. Activity Based Management (ABM), 
  2. Cos Behavior
  3. Cost, Volume and Profit (CPV) dan 
  4. Budgeting.
  • Pilih salah satu jurnal (masing-masing topik terdapat 5 jurnal baik yang berbahasa indonesia maupun berbahasa inggris) sesuai topik pada kelompok Anda. Fokus kajian adalah pada: permasalahan, teori yang digunakan, pendekatan penyelesaian masalah dan kesimpulan.
  • Buat paper untuk masing-masing kelompok dan persiapkan untuk presentasi. Paper dikumpulkan sebelum presentasi.
Download Jurnal

Jul 20, 2016

Manajemen Kinerja



Pada umumnya pimpinan kurang menyukai manajemen kinerja. Mereka hanya berfokus pada:

  • Komunikasi satu arah (atasan pada bawahan) bukan dialog
  • Berkas wajib bukan komunikasi
  • Masa lalu bukan sekarang dan akan datang
  • Menyalahkan bukan memecahkan masalah.

Manajemen kinerja adalah suatu proses komunikasi yang terus menerus, dilakukan dalam rangka kerjasama antara seseorang karyawan dan atasan langsungnya, yang melibatkan penetapan pengharapan dan pengertian tentang hal-hal berikut;

  • Fungsi kerja karyawan yang paling dasar
  • Bagaimana pekerjaan karyawan tersebut berkontribusi pada sasaran organisasi
  • Apa maknanya, dalam arti melakukan pekerjaan dengan baik
  • Bagaimana prestasi kerja akan diukur
  • Rintangan apa yang mengganggu kinerja dan bagaimana rintangan tersebut dapat diminimalkan atau dilenyapkan
  • Bagaimana karyawan dan atasan akan bekerjasama untuk meningkatkan kinerja karyawan

 “Manajemen kinerja dalam beberapa hal sangat sederhana namun, sebenarnya sangat kompleks. Terdiri dari banyak bagian dan membutuhkan keahlian; jika anda mengarahkannya dengan pola pikir yang tepat, anda dapat membuatnya berhasil dan memperoleh manfaat yang besar”.

Jul 19, 2016

Peran Alumni dan Penguatan Lembaga

Mutu dapat diartikan sebagai derajat keunggulan suatu kinerja, dalam konteks pendidikan, upaya peningkatan mutu dapat mengacu pada dua hal, yaitu; “proses pendidikan” dan “hasil pendidikan”. “Proses pendidikan” meliputi aspek pelaksanaan KBM, penciptaan suasana kondusif, pemberian layanan, bahan ajar, metodologi, sarana pra sarana, dukungan administrasi dan sumber daya lainnya. “Hasil belajar” meliputi aspek prestasi yang dicapai sekolah (baik intra maupun ekstra), suasana disiplin, keakraban, kekeluargaan, kenyamanan, kebersihan dan lain-lain. Upaya peningkatan mutu tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada sekolah. Memang, sekolah adalah ujung tombak dan pemilik kuasa terbesar dalam peningkatan mutu ini. Karenanya, diperlukan kemandirian, kemauan kuat, dan kerja keras bagi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Tetapi, kalau kita mengacu pada konsep “Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah” maka diperlukan sinergi dan kerjasama antara beberapa stakeholders yang melingkupi sekolah. Di antara stakeholder sekolah adalah pimpinan/guru/pengelola/siswa yang ada di sekolah, Pemerintah, dan masyarakat, meliputi orang tua, masyarakat umum, dan alumni. Kesemua stakeholders ini tentunya memiliki proporsi peran dan kontribusi masing-masing bagi peningkatan mutu sekolah. Peran dan kontribusi itu dapat dirumuskan secara tertulis/konkrit dalam kerangka acuan sekolah atau dapat pula dilakukan secara alami/natural, terutama terkait peran dan kontribusi dari unsur masyarakat.

Peran Alumni seharusnya seperti apa?

Alumni sebagai masyarakat yang memiliki hubungan khusus dan ikatan bathin yang istimewa terhadap sekolah, tentu memiliki peranan dan tanggungjawab yang khas dan istimewa pula. Karena, alumni telah merasakan dan mengalami sekian tahun menjadi keluarga sekolah, menikmati dan memperoleh layanan jasa, merasakan visi dan misi apa yang dialami dalam sekian tahun tertentu, dan merasakan kualitas macam apa yang dirasakan sehingga dapat menjadi seperti ini. Apapun yang didapat dari sekolah, tentunya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi kehidupannya di masyarakat.

Sebagai masyarakat istimewa sesungguhnya banyak kontribusi yang dapat diberikan alumni kepada almamaternya. Kontribusi tidak hanya bersifat finansial atau materi saja, tetapi dalam konteks peningkatan mutu diperlukan sumbang saran dan pemikiran tentang berbagai macam hal yang berorientasi pada peningkatan mutu sekolah. Di antara yang dapat dilakukan adalah sumbangan pemikiran untuk mencari konsep dan cara kerja meningkatkan mutu, memberikan informasi, menghubungkan sekolah dengan pihak-pihak lain, promosi sekolah, memberikan bea siswa, dan lain sebagainya. Terpenting adalah bagaimana bantuan dan partisipasi yang diberikan tidak bersifat insidental, namun berkelanjutan. 

Bagi alumni yang masih mahasiswa sesungguhnya kontribusi yang dapat diberikan tidaklah kecil dan sedikit. Meningkatkan kepercayaan diri adik-adik, memberikan informasi PT, organisasi atau lainnya, mendampingi kelompok belajar, membantu kegiatan ekstra, menjadi fasilitator pelatihan, membantu dan mendampingi organisasi kedaerahan/perkumpulan, dan lain sebagainya. Peran-peran itu penting bagi sekolah, karena selain menjadi program, juga merupakan upaya lain dalam memberikan warna dan pemahaman berbeda tentang sekolah. Sehingga diharapkan dapat memacu siswa untuk berprestasi, dapat menemukan orientasi belajarnya, berkontribusi untuk kader, dan tak kalah penting adalah meyakinkan siswa untuk tetap kerasan di sekolah. 

Pentingnya peranan alumni untuk penguatan kualitas institusi pendidikan formal (sekolah) sering terabaikan. Padahal, alumni merupakan aset penting yang harus dijaga, dirangkul dan dikembangkan sejak dini. Semua siswa yang ada di sekolah pada akhirnya akan menjadi alumni, sebelum mereka dinyatakan lulus mereka berproses dalam proses pembelajaran dan interaksi sosial di sekolah. Namun keberhasilan lembaga tidak hanya dilihat dari keberhasilan sekolah dalam memproses siswa di sekolah, tapi harus juga melihat keberhasilan alumni dalam pendidikan di level atas maupun keberhasilan dalam pekerjaan di segala bidang. Beberapa peran alumni untuk penguatan lembaga, adalah sebagai berikut:  

Pertama, dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang produktif di sekolah, alumni dapat berperan sebagai katalis dengan memberikan berbagai masukan kritis dan membangun kepada almamater mereka. Dalam hal ini, alumni memiliki posisi tawar yang unik dan strategis karena meskipun mereka tidak lagi merupakan bagian aktif dalam proses pendidikan di sekolah, namun pengalaman mereka selama menjadi siswa dan ikatan batin serta rasa memiliki mereka yang kuat terhadap almamater dapat menghasilkan dan menawarkan berbagai konsep, ide, pemikiran, masukan dan kritik membangun yang hanya bisa diberikan oleh orang-orang yang berada di posisi mereka. Melalui berbagai media komunikasi yang dapat menjembatani sekolah dan alumni, proses pendidikan di sekolah diharapkan dapat berkembang dalam koridor yang lebih progresif dan terarah.  

Kedua, selanjutnya sesuai peran alaminya, alumni yang berprestasi dan memiliki kompetensi yang mumpuni dapat memainkan fungsi penting dalam membangun opini publik untuk menarik minat calon siswa baru. Alumni, disadari atau tidak, merupakan salah satu acuan utama yang mendasari keputusan para orang tua dan calon siswa dalam menentukan pilihan sekolah. Logikanya, jika alumni dari suatu insitusi pendidikan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam memasuki jenjang pendidikan tinggi favorit dan dapat menunjukkan prestasi dan kontribusi mereka secara riil di masyarakat, kualitas dan kuantitas calon siswa/i yang berminat untuk mendaftar akan meningkat. Mata rantai ini, dengan didukung oleh sistem pendidikan internal sekolah yang baik, akan menghasilkan kesinambungan kualitas sumber daya siswa/i dan alumni yang berkualitas, memiliki daya juang tinggi dan semangat berkompetisi secara sehat. 

Ketiga, Alumni sebagai produk utama dari pabrik pendidikan bertajuk sekolah juga diharapkan mampu mengembangkan jaringan dan membangun pencitraan insitusi di luar. Pengembangan jaringan oleh alumni merupakan potensi strategis untuk membuka berbagai peluang dan meningkatkan daya saing suatu almamater pendidikan karena manfaatnya yang akan berdampak secara langsung pada siswa/i dan sesama alumni. Penciptaan peluang usaha, kerja dan magang, kesempatan beasiswa, serta sirkulasi berbagai macam informasi penting seputar dunia pendidikan dan kerja merupakan beberapa contoh riil yang dapat dikontribusikan oleh alumni melalui jaringan yang dimiliki. Dalam hal ini, salah satu wadah yang perlu ditumbuhkembangkan peran dan fungsinya serta didukung keberadaannya oleh pihak sekolah adalah ikatan alumni. Melalui pengorganisasian alumni secara profesional, berbagai macam peluang dan kesempatan akan dapat terkomunikasikan dengan baik.  

Keempat, secara internal sekolah, keberadaan alumni di berbagai bidang usaha, lapangan pekerjaan dan institusi pendidikan dapat memberikan gambaran dan inspirasi kepada para siswa/i, sehingga pada gilirannya dapat memotivasi mereka dalam menentukan prioritas dan cita-cita ke depan. Salah satu contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan acara semacam “Studium Generale” . Dalam kegiatan ini, para alumni, di bawah koordinasi angkatan yang baru lulus, kembali ke sekolah secara rutin setiap tahunnya untuk mengadakan presentasi, tatap muka, diskusi dan membuka stand konsultasi yang akan menjelaskan mengenai berbagai pilihan jurusan dan beberapa alternatif perguruan tinggi negeri dan swasta favorit kepada para siswa, dengan sasaran utama siswa/i kelas XII yang akan lulus. Para alumni yang telah bekerja juga diberikan kesempatan untuk dapat menjelaskan mengenai lingkup kerja mereka beserta tantangan yang dihadapi agar dapat memberikan gambaran mengenai dinamika dunia kerja.

Alumni mungkin hanya merupakan salah satu elemen dari sekian banyak faktor-faktor penting yang berperan dalam meningkatkan kualitas dan kinerja suatu insitusi pendidikan. Namun, melihat potensi strategis dan luar biasa yang bisa digali dari keberadaan alumni, sudah saatnya pihak sekolah mulai merangkul kembali alumninya menyiapkan para siswa dengan persiapan yang matang untuk dapat menjadi alumni yang memiliki dedikasi dan semangat yang tinggi untuk membesarkan almamaternya. Kerjasama dan sinergi yang harmonis antara alumni dengan sekolah, siswa, dan orang tua siswa akan memiliki dampak yang besar bagi pengembangan sekolah secara berkesinambungan di masa mendatang.

Feb 15, 2016

Gender: Teoritis dan Konsep



Konsep Gender
Istilah gender pada mulanya berasal dari perhatian kaum feminis dalam bidang politik. Pada waktu itu, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk mengubah hubungan antara pria dan wanita yang dianggap tidak adil, terutama dalam bidang politik atau kekuasaan (Gilchrist, 1999:2). Selanjutnya, Gilchrist berpendapat bahwa gerakan kaum feminis yang telah mempengaruhi arkeologi ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga gelombang (Savitri, 2007:pp.161-167).
Gelombang pertama berlangsung sekitar tahun 1880 hingga 1920. Gerakan ini bermula dari keinginan kaum feminis untuk mengubah sistem kekuasaan yang ada. Pada waktu itu, pria lebih berkuasa dalam bidang politik apabila dibandingkan dengan wanita. Akibatnya adalah wanita tidak dapat tampil di depan umum karena mereka tidak hanya tidak memiliki hak pilih, tetapi juga tidak dapat beremansipasi dalam masyarakat, tidak dapat aktif dalam bidang politik, tidak dapat mengikuti pendidikan tinggi, serta tidak dapat memiliki pekerjaan yang layak. Dengan adanya gerakan kaum feminis itu, sedikit demi sedikit peran wanita dalam bidang politik, pendidikan, dan pekerjaan yang layak di luar rumah menjadi lebih besar daripada sebelumnya.
Gelombang kedua ini berkembang pada akhir tahun 1960-an. Fokus gerakan gelombang kedua ini adalah pada isu kesetaraan dalam hubungannya dengan jenis kelamin, reproduksi, serta penggunaan wilayah publik dan domestik. Fokus tersebut muncul karena adanya tekanan terhadap wanita sehingga menimbulkan ketidaksetaraan antara pria dan wanita. Tekanan tersebut berasal dari teori patriarki yang dalam praktiknya sangat mempengaruhi kerangka kerja berbagai ilmu baik sosial maupun alam. Teori tersebut menyatakan bahwa kekuasaan membentuk subordinasi wanita melalui beberapa institusi, seperti keluarga, pendidikan, agama, dan pemerintah. Ilmu-ilmu yang terpengaruh itu di antaranya adalah sejarah, antropologi, dan primatologi.
Gelombang ini berkembang sejak awal tahun 1980 hingga sekarang. Gelombang ini mengacu pada pemikiran postmodernis feminism atau bahkan postfeminism yang dipengaruhi oleh poststructuralism dan postcolonialism . Perhatian kaum feminis pada gelombang ketiga ini lebih tertuju pada pendekatan kultural dan simbolis. Pada dasarnya, kaum feminis ini menolak pemikiran yang menggolong-golongkan karakter pria dan wanita secara umum. Adapun penekanan pada gelombang  ketiga ini adalah perbedaan, yaitu perbedaan antara pria dan wanita, baik secara seksual, etnis, maupun sosial.

Bias Gender
Persoalan bias gender mengacu pada pendapat paham androsentris, dimana paham ini berpendapat bahwa pria adalah pusat dari segala hal, pria adalah pembentuk masyarakat atau dominasi pria adalah normal dan alami (Johnson, 1999:119). Sebaliknya, wanita dianggap tidak penting dan sebagai pihak yang terpinggirkan serta tidak memiliki arti penting. Pendapat-pendapat umum yang lebih menonjolkan peran pria dibandingkan dengan wanita dalam masyarakat itulah yang disebut sebagai bias gender.
Masalah utama gender adalah bahwa hal itu didasarkan pada bias gender, yaitu suatu atribut karakteristik sosial yang didasarkan pada anatomi (Hausman 2001). Pemahaman gender yang didasarkan hanya pada anatomi semata menghasilkan suatu bias yang melekat pada masyarakat. Masyarkat khususnya mengidentikkan gender dengan fungsi-fungsi perempuan dan laki-laki yang hanya didasarkan pada persoalan jenis kelamin yang secara kodrati memang memiliki perpedaan. Namun, anggapan ini justru memperburuk pemahaman sehingga akan membatasi masyarakat dalam melihat dan memahami gender itu sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa gender hanya dilihat dari struktur biologis pada individu, sehingga menghasilkan persepsi bahwa gender "tidak dapat diubah" dan "alami" (Preves 2001).
Kata gender dapat diartikan sebagai peran yang dibentuk oleh masyarakat serta perilaku yang tertanam lewat proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Ada perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki-namun kebudayaan menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi seperangkat tuntutan sosial tentang kepantasan dalam berperilaku, dan pada gilirannya hak-hak, sumber daya, dan kuasa. Kendati tuntutan ini bervariasi di setiap masyarakat, tapi terdapat beberapa kemiripan yang mencolok. Misalnya, hampir semua kelompok masyarakat menyerahkan tanggung jawab perawatan anak pada perempuan, sedangkan tugas kemiliteran diberikan pada laki-laki. Gender adalah sebuah kategori sosial yang sangat menentukan jalan hidup seseorang dan partisipasinya dalam masyarakat dan ekonomi (Word Bank. 2000).

Kesetaraan Gender
Kesetaraan gender merupakan hal yang diterima secara luas sebagai komponen penting bagi praktek pembangunan yang  berkelanjutan. Pemberian kesempatan yang sama bagi perempuan, sebagaimana laki-laki, untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan berkontribusi bagi ekonomi dan kesejahteraan keluarga serta masyarakat, merupakan sebuah elemen penting dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi dan menurunkan tingkat kemiskinan.
Aida Vitayala (2014) mengungkapkan, persepsi mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan ciri biologis primer (fisik) telah membudaya, sehingga memengaruhi cara pandang masyarakat. Padangan itu juga yang membatasi peran perempuan dalam tatanan sosial. Ciri biologis primer itu memungkinkan perempuan memiliki kemampuan 2H - 2M (haid, hamil, melahirkan, dan menyusui). Hal itu menyebabkan mereka diposisikan berperan di rumah. Dalam ciri biologis sekunder (kuat-lemah atau maskulin-feminin) tidak ada perbedaan mencolok. Demi meraih hak sama di segala bidang, perempuan mengharapkan kesetaraan gender. Kesetaraan disini bukan berarti tuntutan perempuan untuk menyamakan fungsi perempuan dan laki-laki. Kesetaraan disini, dimana perempuan ingin memiliki akses dan kesempatan yang sama sesuai dengan kompetensinya.
Pembangunan yang memerhatikan ketidaksetaraan gender dan berbagai bentuk diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan sesungguhnya membantu kaum perempuan dalam memajukan hak-hak asasi mereka dan mendukung terciptanya sebuah masyarakat yang lebih adil dan kooperatif.  Sementara itu, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Instruksi Presiden (INPRES) RI No.9/2000 yang mensyaratkan perlunya pengarusutamaan gender dalam upaya-upaya pembangunan. Pada tahun 2002, sebuah pedoman mengenai Petunjuk Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional telah diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan untuk memberikan arahan bagi lembaga-lembaga pemerintah  dalam pelaksanaan INPRES 9/2000, dan menyusul dengan digunakannya sebuah pendekatan GAP (Gender Analysis Pathway) (Word Bank:2000).
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Indonesia tahun 2005-2009 menargetkan pengarusutamaan gender dalam area-area utama yang terkait dengan upaya mewujudkan negara Indonesia yang adil dan demokratis. Dokumen ini mempertegas pentingnya: menjamin partisipasi semua anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan baik di tingkat nasional maupun daerah;  memperkenalkan tindakan afirmatif bagi partisipasi kaum perempuan dalam pemerintahan; menyediakan upaya-upaya peningkatan kapasitas bagi kaum perempuan untuk berperan dalam pengambilan keputusan politik; menjamin partisipasi kaum perempuan dalam berbagai pelatihan dan peningkatan keterampilan bisnis; serta memastikan bahwa sektor formal memberikan peluang kepada kaum perempuan untuk berpartisipasi di dalamnya. 

Daftar Pustaka
Preves, S. E. (2005). Intersex and identity: The contested self. New Brunswick, NJ: Rutgers University Press.
Johnson, Matthew. 1999. Archaeological theory: An Introduction. Oxford: Blackwell Publishers Ltd.
Savitri, Mimi. 2007. Bias Gender: Masalah Utama Dalam Interpretasi Arkeologi. Jurnal Humaniora. Vo. 9. No. 2. Halaman 161-167.
Witayala, Aida. 2014. Kesetaraan Gender. http://www.jurnalperempuan.org/ kesetaraan-gender.html  diakses tanggal 14-04-2015 pukul 13:30.
Gilchrist, Roberta. 1999. Gender and Archaeology. New York: Routledge.


Hausman, B. L. (2001). Recent transgender theory. Feminist Studies, 27, 465–490.
Word Bank. 2000. Rangkungan Pembangunan Berperspektif Gender. siteresources.worldbank.org diakses tanggal 14-04-2015 pukul 13:30.
 

 

Tulisan Baru

Jamur Tiram peluang dan manfaatnya

  Jamur tiram merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan mudah pada media kayu lapuk, dapat dikonsumsi serta bernilai ekonomi. ...